Kamis, 24 November 2011

Cerpen HARI GURU


Terima kasih..


Tak terasa malam cepat sekali berlalu. Badan ini rasanya sangat malas beranjak dari kasur ku yang empuk. Walupun jam di dinding kamarku telah menunjukkan angka 7.15 aku masih tetap saja santai.
Sesampainya di gerbang sekolah aku melihat Bu Tarigan selaku guru matematika sekaligus sebagai guru B.P. beliau masih tampak semangat mengawasi para siswa walau umurnya sudah menginjak kepala 4. Rambut putihnya yang terikat sangat rapi sangat serasi dengan kulit wajahnya yang mulai mengkerut.
“ Dony, kamu terlambat lagi?”ujarnya lembut. Aku hanya terdiam dan segera mengambil alat-alat kebersihan dan mulai membersihkan lapangan parker. Tak terasa bel sudah berbunyi 3 kali dan aku memasuki ruangan kelas.
Sesampainya di ruang kelas ku rebahkan badan ku yang lelah di atas meja. Alex satu-satunya teman ku mulai menemui ku.
“ Don, kamu rugi tak masuk tadi. Kita tadi melakukan 3 ujian sekaligus.” Ujarnya bersemangat.
“oooo…Jadi?” ucapku santai. Alex hanya terdiam tak percaya. Mungkin dia berpikir mengapa masih ada orang seperti diriku.
Selama pelajaran berlangsung aku hanya terdiam. Bukannya mendengarkan apa yang di ajarkan guru tetapi tertidur lelap. Tak terasa ada yang membangunkan ku.
“Dony, silahkan ke ruang B.P. “ ujar Pak Siagian padaku. Aku segera beranjak ke tempat yang telah menjadi tempat ke-2 di sekolah ini yang paling sering ku kunjungi selain kantin.
Sesampainya di ruang B.P, Bu Tarigan tampak memelas seraya mempersilahkan ku duduk di hadapannya.
“ Kamu dapat surat peringatan lagi. Dan ini yang ke-3. Ini peringatan terakhir. Ibu harap kamu dapat datang bersama keluargamu dan kita akan mengambil keputusan yang paling baik.” Ujarnya.
Usai dari ruang B.P aku tak kembali ke ruang kelas.  Namun pergi ke kantin. Kupandangi surat tersebut. Kebanyakan mengkhayal membuatku merasa ingin segera terlelap. Namun bel yang menandakan bahwa akitivitas di sekolah ini berakhir akhirnya berbunyi.



Sesampainya di rumah aku segera pergi ke kamar saat aku melewati ruang keluarga tampak ayah, ibu tiriku dan kakak tiri ku sedang asyik bercanda. Mereka tak memperdulikan ku sama sekali. Mereka bahkan tak mengetahui akan keberadaan sama sekali. Namun karena sudah biasa akan hal tersebut aku hanya bersikap acuh tak acuh walaupun napas ku mulai terasa sesak.
Tidur siang adalah satu-satunya hal yang dapat menengankan perasaan ku. Namun tidurku terganggu oleh suara keras pintu yang di buka secra paksa. Belum sempat aku bangun dari kasur, ku rasakan hantaman keras mengenai wajah ku.
“ Kau ini benar-benar  anak yang tak bisa diharapkan. Apa ini?” ayah terlihat sangat marah seraya melemparkan surat peringatan ke wajah ku. Aku hanya bersikap setenang mungkin dan mulai membela diri.
“ Bagaimana aku bias sukses sedangkan tak ada 1 orang pun di rumah ini yang menganggap ku ada. Bukankah aku hanya bayangan semu di rumah ini?” ujarku.
Ayah mencoba menamparku lagi, nmaun kali ini aku menahan tangannya.
“ Tanpa mengurangi rasa hormat ku pada ayah. Aku mohon jangan pernah memperlakukan ku seperti ini. Sewaktu bunda mash hidup tak pernah sekalipun ayah membentak ku dengan keras bahkan ayah slalu memegang prinsip untuk tak akan pernah menggunakan tangan dalam mendidik putranya” sambungku lagi
“ Ayah bersikap seperti itu untuk anak yang bisa ayah banggakan. Apa kau tak bisa meniru Ryan kakakmu. Dia selalu mendapat peringkat pertama di sekolahnya. Bahkan dia sekolah di sekolah favorit. Sdangkan kau??!” amarahnya terlihat mulai memuncak.
“Ha ha ha.. Ya Tuhan betapa menyedihkan hidup ku ini. Seorang anak yang tak pernah di anggap. “ selesai mengucapkan itu , aku meninggalkan kamarku sendiri dan menuju gudang.
Ku ambil album yang telah usang. Tampak di dalamnya terlihat seorang ayah,ibu dan anak yang tersenyum bahagia. Aku mulai meneteskan air mata. Aku tak percaya bahwa hidup ku dulu pernah sangat bahagia.
Semenjak kematian bunda semua berubah. Apalagi sejak ayah menikah lagi dengan wanita itu. Ayah menikah 3 bulan setelah kematian buna. Itu adalah salah satu factor yang menyebabkan ku tak menyukai wanita itu.
Dulu aku selalu mengatkan bahwa kisah Bawang Putih Bawang Merah dan Cinderella adalah omong kosong belaka. Namun saat ini aku dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Bedanya ayah mereka masih sangat mencintai putri kandungnya. Sedangkan aku?
          Esoknya aku dan ayah berangkat ke sekolah. Sesampainya di depan ruang B.P ayang menyuruh ku menunggu di luar. Selang beberapa waktu aku dipanggil masuk ke ruangan itu.
          “ Saya sudah menyerah untuk mengurusnya. Jika di pecat adalah hal yang terbaik saya dapat menerimanya. Jantungku terasa berhenti berdetak saat itu juga sesaat. Tak adakah lagi kasih sayang yang tulus untuk ku dari ayah? Namun dengan pembelaan Bu Tarigan aku akhirnya dapat tetap melanjutkan sekolah denagn 1 kesempatan akhir.
          Aku terjatuh lemas di aula sekolah. Buliran airmata terasa seperti sungai kecil yangtak akan pernah berhenti mengalir di pipiku. Ku mulai menyanyikan 1 lagu yang menggambarkan perasaan ku saat ini.
Malam ini hujan turun lagi
Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
Yng ku harap tiada pernah terjadi
Ku ingat saat Ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki
Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

Mungkin sejenak dapat aku lupakan
Dengan minuman keras yang saat ini ku genggam
Atau menggoreskan kaca di lenganku
Apapun kan ku lakukan, ku ingin lupakan
Namun bila ku mulai sadar, dari sisa mabuk semalam
Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
Disaat ku telah mengerti, betapa indah dicintai
Hal yang tak pernah ku dapatkan, sejak aku hidup di jalanan
Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
            Seseorang tiba-tiba memegang pundak ku. Terasa tangannya sangat hangat. Aku sangat terkejut mendapati bahwa itu adalah Bu Tarigan.
          “ kehidupan di rumah memang dapat mempengaruhi kehidupan kita di lingkungan yang lain. Tapi kau harus ingat bahwa kehidupan yang kau inginkan akan kau dapat jika engkau berusaha,” ujar beliau memulai percakapan.
          “ Walaupun kau merasa sangat hancur, jangan pernah lari dari masalah karena itu akan membuat mu merasa lebih terbebani. Kamu harus mau menghadapinya. Jikalaupun hasilnya tak sesuai harapan mu, setidaknya kau akan merasa lebih baik karena sudah berusaha. Kebahagiaan mu ada di dalam genggaman tangan mu sendiri,” sambungnya seray tersenyum padaku.
          Aku melihat kasih sayang yang tulus terpancar dari bola matanya yang indah. Tatapan yang sangat aku rindukan. Tatapan yang tak pernah ku dapat setelah kematia bunda.
          Dalam benakku aku mulai terbeit keinginan yang kuat untuk merubah segalanya. Hari-hari selanjutnya ku hadapi dengan jauh lebih baik. Walapun kadang aku masih terjebak dalam masa-masa burukku namun uluran tangan Bu tarigan yang penuh kasih sayang selalu dapat menyelamatkanku dan membawa ku ke jalan yang benar.
          Tak terasa besok adalah tanggal 25 November. Aku sibuk mencari hadiah untuk pahlawan ku. Namun hari ini aku mendapat kabar yang mampu membuatku menangis lagi.
          “ Pengumuman bagi semua siswa agar kita besok mengumpulkan dana social karena Bu Tarigan Guru mata pelajaran matematika dan juga sebagai guru B.P akan pindah tugas.” Ucap kepala sekolah.
          Malam harinya aku sangat berharap hari esok tak akan pernah datang. Aku merasa tak siap kehilangan pahlawan ku. Namun apa daya
Aku harus merelakan sekali lagi orang yang paling ku sayangi.
          Paginya aku bergegas berangkat ke sekolah. Selama acara di mulai aku merasa tak semangat. Saat menyanyikan lagu HIMMNE GURU aku meneteskan air mata. Aku tak peduli apa pendapat orang lain yang melihatku menangis di tengah lapangan. Mereka mengataiku banci, cengeng, caper, gila aku tak peduli lagi.
          Saat acara penyemangatan bunga aku tak kuasa melihat wajah Bu Tarigan. Tangan ku bergetar hebat. Beliau memelukku dengan sangat hangat. Seperti pelukan ibu terhadap anaknya.
          Akhirnya tiba saat acara perpisahan. Aku membawakan sebuah lagu untuk pahlawan ku yang hebat.


Guru kan ku sayang…
Guru kan ku kenang…….
Selalu ku ingat kala kita bersama.
Kini kau jauh, aku rindu
Kau selalu di hati ku..

Reff : Ada saat jumpa
Ada saat pisah
Ada saat bertemu lagi…
Namun ku tak lupa..
Sebut namamu..
Dalam stipa DOA ku..


          Semua orang terisak pada saat itu juga tak terkecuali Bu Tarigan. Namun air matanya tampak seperti bulir-bulir berlian yang sangat berharga.
          “ Ibu harap kalian dapat menjadi siswa siswi yang baik walaupun ibu tak bisa mengawasi kalian lagi.” Itulah kalimat terakhir yang di ucapkannya.


          Tak terasa ini tepat 1 tahun kepindahan beliau. Walaupun beliau tak ada di sini, aku akan menjaga kepercayaan yang di berikan padaku. “SELAMAT ULANG TAHUN PAHLAWAN TANPA TANDA JASA.”
Hanya ucapan terima kasih yang dapat ku ungkapkan.


0 komentar:

Poskan Komentar

 
;